0 5 min 3 bulan
13 / 100

Oleh Reza A.A Wattimena

Janganlah berduka, begitu kata Rumi. Apa yang lenyap akan datang kembali dalam bentuk yang lain. Bulan tetap bersinar terang, justru ketika ia tidak menghindari gelap. Seperti bulan, kita bersinar terang, hanya ketika kita memeluk kegelapan.

Percakapan di bar itu sudah berlangsung lama. Bartender sudah mulai bersih-bersih, dan hendak menutup tempat. Entah berapa botol bir yang telah ia minum. Teman saya tampak lunglai.

Hatinya lelah dan patah. Ia baru saja bercerai. Sakitnya luar biasa. Di usianya yang menjelang 40, ia harus meninggalkan istri dan kedua anaknya.

Apakah tak ada jalan lain?, begitu saya tanya. Perpisahan ini tak terhindarkan, begitu katanya. Benih kebencian sudah muncul di hari pertama pernikahan. Ia semakin berkembang, dan meracuni seluruh cinta yang telah ada sebelumnya.

Betapa rapuhnya semua ini. Saya teringat ucapan Buddha Gautama lebih dari 2400 tahun yang lalu. Apa yang dirawat dan dibangun dengan penuh rasa bisa lenyap dalam hitungan detik. Sungguh, hidup ini seperti mimpi, seperti bayangan, sebuah ilusi yang terus berusaha menjerat kita.

Perpisahan adalah salah satu penderitaan paling berat yang ada di dalam hidup manusia. Bentuknya beragam. Perceraian sampai dengan kematian adalah bagian tak terpisahkan dari hidup. Sayangnya, ini sama sekali tak bisa dihindari.

Apa muncul harus lenyap. Apa yang lahir harus mati. Apa yang dipertemukan akan berpisah. Semua hanyalah soal waktu dan giliran.

Ini terlihat mudah. Namun, untuk sungguh menghayatinya, perjuangan yang berat dibutuhkan. Kita boleh lupa sejenak. Namun, berbagai peristiwa akan terus mengingatkan kita, betapa sementaranya semua ini.

Kita mengira, kisah cinta ini akan berlangsung selamanya. Kita mengira, harta kita akan membuat kita kaya selamanya. Ah, betapa kita bodoh. Sedikit pergeseran, semuanya, termasuk nyawa kita, bisa musnah begitu saja.

Perpisahan

Mengapa perpisahan begitu menyakitkan? Ada empat hal penting. Pertama, perpisahan menyakitkan, karena ia menyisakan ingatan. Ada ingatan bahagia yang ingin diulang, namun tak dapat dilakukan. Ini dibarengi dengan ingatan perpisahan yang terus menusuk dari dalam dada.

Ingatan bisa menjadi penjara. Ingatan bisa menjadi penyiksa batin paling besar. Ingatan akan kebahagiaan di masa lalu, dibarengi dengan kesadaran, bahwa itu tak mungkin terulang, sungguh menyakitkan bagi yang mengalaminya. Inilah alasan pertama, mengapa perpisahan itu begitu menyakitkan.

Dua, ingatan juga bisa menjadi dasar untuk harapan. Kita ingin, agar masa depan dipenuhi dengan keindahan. Ide tentang keindahan pun kita peroleh dari apa yang telah kita alami. Pendek kata, kita ingin masa depan yang indah, sebagaimana keindahan yang telah terjadi di masa lalu.

Perpisahan menghancurkan semua itu. Yang telah lalu tak mungkin lagi diulang. Masa depan menjadi penuh dengan ketidakpastian. Yang datang bukan lagi kebahagiaan, tetapi kecemasan dan ketakutan yang menyiksa batin dan badan.

Tiga, perpisahan juga mempengaruhi tubuh kita. Beberapa penelitian telah membuktikan, bahwa perpisahan membuat tubuh kita seperti berusaha lepas dari ketergantungan obat. Kita seperti berusaha lepas dari kecanduan terhadap zat-zat tertentu. Otak kita tak bisa membedakan antara pengalaman perpisahan dengan orang yang dicinta, dan pengalaman putus dari ketergantungan obat.

Empat, pengalaman perpisahan itu seperti kehilangan diri kita sendiri. Seolah, diri kita terbelah, dan meninggalkan kita. Kita hidup hanya dengan separuh nyawa. Tak heran, perpisahan bisa menciptakan derita yang begitu ganas.

Orang pun seperti linglung dibuatnya. Ia merasa seperti tercabut dari dunia. Perpisahan memukul orang sampai ke akar hidupnya. Tak sedikit yang terus berduka, walaupun puluhan tahun telah terlewatkan.

Memulihkan Diri

Ada empat langkah untuk memulihkan diri. Pertama, kita perlu sungguh sadar, bahwa ingatan adalah sampah. Ia adalah sisa-sisa dari pengalaman yang telah lalu. Dengan memahami ini secara tepat, kita akan secara alami berjarak dari ingatan. Siapa yang mau hidup dengan tumpukan sampah?

Hidup dengan sampah membuat kita bau. Kita sesak oleh sengatan ingatan kita. Hari-hari terasa berat. Kita akan terus tenggelam di dalamnya, sampai kita sungguh sadar, dan bangun dari sampah ingatan kita sendiri.

Dua, emosi adalah keadaan sementara, termasuk di saat-saat perpisahan. Kadang sedih muncul, lalu diikuti marah, kecewa, bahagia, senang dan sebagainya. Semua itu adalah keadaan-keadaan yang sementara. Itu bukanlah diri kita. Maka, kita tidak boleh terjebak di dalamnya.

Tiga, memulihkan diri, sebenarnya, adalah kata yang kurang tepat. Tidak ada diri yang sakit. Maka, tidak ada diri yang dipulihkan. Konsep diri hanyalah narasi hasil dari ciptaan pikiran semata yang tak paham soal kehidupan.

Karena tidak ada diri, maka tidak ada perpisahan. Apa yang berpisah, jika diri tidak ada? Manusia selalu merupakan jaringan yang terhubung dengan segala yang ada. Tidak ada diri manusia yang utuh, terpisah, apalagi bersifat tetap.

Pemahaman ini akan memberikan kebebasan yang seutuhnya. Semua rasa dan pikiran hanyalah peristiwa sementara yang segera berlalu. Tidak ada “diri” yang mencengkramnya. Tidak ada diri yang perlu dipulihkan.

Di luar sana, memulihkan diri adalah sebuah industri besar. Banyak guru-guru palsu bertebaran. Banyak acara-acara palsu ditawarkan. Kita perlu jernih dan kritis di dalam membaca itu semua.

Pada akhirnya, duka akibat perpisahan haruslah dilihat sebagai teman lama. Ada waktunya, ia pergi. Ada waktunya, ia kembali berkunjung. Sambutlah ia sebagai teman lama.

Mungkin Rumi benar, kita bisa bersinar, ketika kita memeluk kegelapan. Ia adalah teman lama yang selalu bersama kita. Jangan berduka. Sesungguhnya, tidak ada yang berpisah di alam semesta ini. Kita terus diikat oleh jaringan maha besar yang berada sebelum nama… sebelum kata…

***

Note :

Reza A.A Wattimena

Peneliti di bidang Filsafat Politik, Filsafat Ilmu dan Kebijaksanaan Timur. Alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta, Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Zen dan Jalan Pembebasan (2017-2018), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), Cosmopolitanism in International Relations (2018), Protopia Philosophia (2019), Memahami Hubungan Internasional Kontemporer (20019), Mendidik Manusia (2020), Untuk Semua yang Beragama (2020), Terjatuh Lalu Terbang (2020), Urban Zen (2021), Revolusi Pendidikan (2022) dan berbagai karya lainnya.

Sumber : https://rumahfilsafat.com/2022/08/11/memulihkan-diri-setelah-perpisahan/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *