0 3 min 1 minggu
65 / 100

Beritakampus.id – Kuala Lumpur, – Pada hari Kamis, 27 Juni 2024 Rombongan Forum Indonesia Menulis (FIM) menggelar lawatan ke Sekolah Indonesia Kuala Lumpur (SIKL),  Sekolah yang menjadi pusat kebanggaan bagi Warga Negara Indonesia (WNI) di Malaysia, yang didirikan pada tanggal 10 Juli 1969,  tidak hanya sekedar sekolah biasa, namun menjadi simbol penting dalam diplomasi pendidikan Indonesia di luar negeri, khususnya di Malaysia, dengan pendekatan yang kuat pada pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.

Menurut Nerly Riasa Sry Rizki, S.H, S.Pd, seorang guru dari Taman Kanak-Kanak di Medan, kunjungannya ke SIKL membangkitkan kebanggaan terhadap rasa nasionalismenya.

“Saya melihat bendera Merah Putih berkibar di SIKL, sungguh mengharukan. Sebagai anak bangsa, saya bangga Merah Putih berkibar disana. Saya juga bangga saat mengetahui  pengisi suara Susanti dalam serial Upin dan Ipin ternyata berasal dari murid kelas 6 SIKL,” ucap Nerly, yang baru pertama kali mengunjungi sekolah tersebut.

Ahmad Fanani Mosah, S.Ag, seorang pendidik, penyiar radio, dan wartawan memberi apresiasi sebesar besarnya pada SIKL yang dapat menyeimbangkan antara ilmu, teknologi dan nasionalisme kebangsaan.

 “SIKL mewujudkan diri sebagai institusi pendidikan yang tidak hanya unggul dalam literasi, tetapi juga dalam komunikasi dan adaptasi, khususnya dalam menjunjung nasionalismenya. Saya berkesempatan berdialog dengan murid yang sedang belajar tari, melihat  sendiri fasilitas modern seperti ruang kelas yang dilengkapi teknologi canggih, perpustakaan yang lengkap, laboratorium, serta fasilitas olahraga dan seni.” kata Fanani pada kru media melalui WhatShappnya.

Menurut Yoyok Ardianto, S.E. murid-murid di SIKL tergolong ramah dan santun. Hal ini dirasakan saat Yoyok menjumpai beberapa murid di ruang kesenian dan mengajak berdialog. Percakapan terasa nyaman dan lancar menggunakan bahasa Indonesia.

“Walau sebentar, saya berdialog dengan mereka, beberapa murid Indonesia yang sekolah di SIKL. Mereka sangat ramah dan tidak kehilangan jati dirinya sebagai warga Indonesia. Mereka mengikuti orang tuanya bekerja di Malaysia. Ada yang lahir dan besar di Malaysia dengan budaya serta kultur dari Malaysia, maka hal ini menjadi tantangan tersendiri para guru dapat meng Indonesiakan mereka” tutur Yoyok yang berprofesi sebagai guru dengan tambahan tugas sebagai Kepala SMP Negeri 2 Tanjung Palas Bulungan Kalimantan Utara.

Dalam pandangan Luluk Wulandari, S.Pd, M.Pd, Dr (Cand) yang saat ini sedang menempuh studi Doktoral di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), menemukan pendidikan di SIKL bersifat komprehensip.

“Anak-anak Indonesia yang tinggal di luar negeri menghadapi tantangan dalam mempertahankan dan memperkaya identitas budaya mereka di tengah lingkungan yang beragam secara kultural. Proses internalisasi budaya ini penting untuk memastikan, bahwa mereka tetap terhubung dengan akar budaya Indonesia sambil tetap terbuka terhadap pengalaman dan nilai-nilai baru di tempat tinggal mereka” jelas Luluk  bersama dengan rekan sekerjanya di SMA Negeri  1 Tawangmangu menciptakan sekolah futuristik di Indonesia. Sekolah yang didirikan secara langsung oleh Ganjar Pranowo sebagai Gubernur Jateng saat itu.

Sedangkan dalam pandangan Dr. Sugeng Prihadi, M.Min, M.Th, rohaniwan dan pegiat budaya dan moderasi beragama di Kabupaten Tegal, melihat dari sudut akreditasi dan pengakuan SIKL.

“SIKL yang berada di Malaysia diakui oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Pengakuan dan dukungan juga diberikan oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia di Kuala Lumpu,r guna memastikan penyelenggaraan pendidikan yang sesuai dengan standar nasional” beber Sugeng. Lebih lanjut katakan, SIKL berperan cukup penting dalam mempertahankan identitas budaya dan pendidikan untuk warga WNI di Malaysia.

Visi yang jelas dan komitmen mutu pendidikan yang tinggi, SIKL terus meningkatkan jaringan antarbangsa dan memberikan kontribusi positif bagi perkembangan generasi muda Indonesia di Malaysia.

Melalui kunjungan ini, para pegiat literasi Indonesia tidak hanya mendapatkan wawasan yang berharga, tetapi juga mengalami sendiri peran SIKL sebagai lembaga pendidikan yang memiliki daya saing global dengan tetap mempertahankan nilai nilai ke Indonesiaannya. (Sugeng Ph)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *